Skuy cah

Jumat, 18 Oktober 2019


Kali Kedua Tak Lagi Sama

“Ndrett…. ndrett..” . Suara getar alarm gawai membangunkan lelapku. Dengan setengah sadar seperti biasa Aku mengingat apa yang akan dilAkukan satu hari ini. Dengan menunggu 6 nyawa lainnya yang  sedang berkelana dengan mimpiku semalam, Aku masih berusaha keras untuk mengingat.
“byur.. byur.. byur..” air yang bertubrukan dengan lantai kamar mandi terdengar dengan jelas. Ku panggil teman ku untuk memastikan,
 “Tul? El? Pit?” suarAku penasaran. Tiba tiba seseorang muncul dari balik pintu. Ternyata Nutul teman alien sekaligus teman kelasku. Dengan suara khasnya “Lusiiii.. mandii.. nanti ketinggalan buss.” Dengan tertawa ku sambut lengkingan nada geramnya, maksutmu apa pikirku.
Setelah ku kembali ke kamar baru teringat hari ini jadwal untuk pergi ke Pulau dewata, sebagai mahasiswa dengan umur masih kepala dua nyawa ke 6 baru bisa kembali setelah gosok gigi dan cipratan air wudhu. Setelah ku laksanakan kewajibanku sebagai manusia beragama tiba tiba suara gawai ku bordering lagi. Tertera nama biyung di gawaiku ternyata tugas seorang ibu tidak bisa lepas meskipun anaknya sudah di perantauan. Pesan singkat mengingatkan bahwa Aku harus segera bangun dan mandi serta mengecek kembali barang yang harus ku bawa saat kegiatan kuliah lapangan di Bali. Meskipun ini kali kedua ku ibuku selalu mewanti wanti agar tidak ada yang tertinggal.
Begitu membaca pesan singkatnya Aku segera melaksanakan perintah “ndoro ayu” kalau kata Bapak. Bukan karena Aku terburu tapi Aku mengingat bahwa setiap pagi ibu pasti sangat kerepotan dan Aku akan merasa durhaka karena tidak menuruti perintahnya, dengan memberiku pesan singkat seperti itu rasanya mata awas ibu berada di sekelingku. Entah mengapa hari ini rasanya menyenangkan sekali.
Dua puluh menit usai ku sudah siap dengan koper dan ransel. Suara riuh penghuni asrama putri sudah saling cekikikan canda dan suara tarikan koper sudah mulai bising. Dari lantai atas ku melihat salah satu teman kelasku lalu ku panggil ia “nces, inces, tungguin donk, lagi pake sepatu nih. Tul, buruannn, katanya biar ga ketinggalan bus,”.
Perjalanan kami awali dengan saling melempar canda dan ramalan, “nces, nih pasti busnya ga ada di depan solo square, dah kebal Aku dengan janji janji om om” dengan tertawa mengejek ia membalas ramalanku
“sering kecewa ya mbak hahahaha”. Sesaat setelah itu tibalah kami di depan solo square dan benar bus nya tidak satupun yang tampak. Ternyata mereka terjebak macet di jalan. Disana sudah berkumpul teman temanku yang lain. Wajah ceria mereka pancarkan untuk perjalanan yang akan di tempuh. Pikirku semoga kali kedua tak lagi sama.
Perjalanan dibuka oleh suara merdu biduan kelas kami, lagu ambyar milik legend campursari Lord Didi Kempot dan Caknan kami lantunkan dengan semangat di dalam bus, tak terasa tibalah kami di salah satu Sekolah berbasis Alam yang akan menyenangkan menurutku di kota Surabaya. Dalam hati “Ini Surabaya, wah panas terik, air di sungai gak mengalir, masak iya sih ada sekolah alam disini,” pikirku merendahkan. Ternyata pradugAku salah, Sekolah Alam Insan Mulia (SAIM) konsisten dengan namanya sekolah alam.
“eh kamu cantik banget nak, sini sini kaka foto,” pujiku kepada salah satu siswa di SAIM , dan tiba tiba teman temannya mendekat,
“Pagiku cerahku, matahari bersinar, ku gendong tas merahku di pundak,” nyanyiannya untukku dan tanpa malu Aku menyanyi bersama mereka dan dan seketika teman temanku hanya melempar senyum padAku. Ah pembuka yang menyenangkan.
Menggali informasi sedetail mungkin sangat bermanfaat disini. Pematah praduga yang mantab.
“Mbak waktunya sudah habis, silahkan menuju masjid untuk beribadah, makan, dan sesi selanjutnya” tutur Ustad di SAIM dengan ramah mengarahkan mahasiswa. Aku rasa perjalanan kali ini akan menarik pikirku optimis.
Sebelum perjalanan kami lanjutkan, Aku diberi amanah untuk membawa kembali air mineral sisa kembali ke bus, sabahatku Satria tiba tiba datang dengan wajah tengilnya mengejek. “bawa tuh, lemah amat sih lu hahaha” tawanya menggelegar memecah kebisingan di sekitar kami. “untung lu jelek, kalo semisal ganteng kaya si Dipta gak gue nyinyirin lu hahahaha” tanpa sadar Dipta berada di belakangku dan mendengar semua perkataanku.
Karena malu Aku cepat cepat menarik almet Satria “eh lu kenape ga bilang Dipta di belakang gue” cakapku kesal. Kisah awal dimulai dari kejadian ini, ekspetasi kali kedua indah sepertinya akan susah tercapai.
Perjalanan kami lanjutkan menuju Pulau Bali, makan malam pun tiba. Karena terburu lapar Aku dan mei teman bangkuku segera turun dan antri di depan meja prasmanan. Sialya Dipta berada di seberang meja prasmanan, menahan malu ternyata tidak asik.
“Mei lu duduk aje dulu, ntar gue ambilin minum.” Kataku dengan menoleh noleh bangku yang kira kira bisa kita tempati. “heh sat, kok ambil minum dua sih?” tanyaku pada satria saaat kami berpapasan di ruangan yang penuh sesak. “lah ini gua ngambilin buat lu satu,” jelasnya. “terimakasih utututu cuhubutku ini baik bener. Taruh mejaku ya sat Aku harus ngambilin satu buat mei nih dah janji mau ngambilin hehe” Godaku.
Setelah kejadian siang tadi Aku selalu menatap Dipta lewat kejauhan. Paiton sudah kami lewati, tiba tiba terdengar lagu Tegar milik Rossa,
“tergoda Aku tuk berfikir dia yang tercinta, mengapa tlah lama tak Nampak dirimu di sini, jangankan ku ingin tersenyum tak ada gairah, ku ingin selalu bersmamu, kini ku resah diriku lemah tanpa mu,,” semakin lengkap sudah suasana dan lagu yang terputar. Dipta yang kian terasa jauh ku bisa apa.
Tak lama pelabuhan semakin terlihat, rasa jenuh melanda, dan kapal terasa menyebalkan saja karena bau solar, ah kacau.
Pikiranku terombang ambing layaknya ombak galau tidak jelas. Harapan pupus sudah. Ditambah suasana dek kapal bau mie instan cup. Semakin mual sajalah perut ini. Untungnya hanya 2 jam kami di kapal kalau tidak mungkin Aku sudah ambyar.
Hotel transit terlihat, “Alhamdulillah bisa rebahan” katAku. Sarapan yang sudah di hidangkan tak meruntuhkan dinding galauku. “heh lu kenape,” Sapa Satria. Karena keadaan jiwa sedang tidak stabil Aku memilih diam saja. “balik bus yuk” ajak teman teman, kami pun kembali ke bus, dan apa yang Aku lihat adalah Dipta sedang berfoto dengan mantannya “haha tau gitu gue nambah nasi tadi sat hahaha” gumamku pada satria. “gausah sok ketawa lu kalo ambyar, ambyar aja” ledeknya.
Setelah kunjungan kami menuju GWK, di sana hal sama merusak suasana hati terjadi lagi, Dipta memberikan hadiah kepada Gita mantannya. “haduh to le le ambyar atiku” keluhku kepada sahabatku Satria. Lamunanku terpecah saat tari kecak dimualai yang selalu terputar dalam otak,”nih kenapa sih orang gendut gak berhak bahagia”
Perdebatan batin dan logika ku sedikit merusak target capaianku di Bali. Aku terlihat murung, nahkan Aku merasa pusing sekali. Tiba tiba Aku sudah berada di dalam bus dengan bau minyak angina di leherku, “loh, kok, dimana nih” tanyAku bingung. “gausah kaya sinetron lu, dah tau di bus segala nanya dimana” omel Mei di sampingku.
Hotel Penginapan sangat nyaman membuatku merehatkan badan dan pikiranku dengan siraman air hangat shower di kamar mandi dan tidur.
“ndret,, ndret..”
“kenapa nih satria, halo, iya kenapa sat” gumamku
“lu pinter dikit kek. Lu itu di Bali, yang lu lAkuin di sini bukan buat galau bambang. Mahal coy kasian ortu lu” omel Satria tanpa basa basi dan jeda untuk sekedar pembelaan.
“hehehe iya sih gue kenapa sih huhu so sad” ucapku manja.
“yaudah gua gamau liat lu besok loyo kaya tisu kena aer, yaudah gue mau ke chattime coffe dulu, dah tidur lu bambank” pesan satria dengan nada mengusir.
“yadeh bye” timpAku
Penguatan sabahatku memberi semangat baru di hari ketiga, tiba tiba aja mikir gamau durhaka sama bapak ibu kalau galau gak jelas. Aku awali dengan yoga di depan balkon agar hariku lebih tenang, normal, dan sangar.
Kunjungan wisata ke Uluwatu sebagai tanda selesainya masa galau alai ku, disana Satria memberiku balon. Dia menyuruhku keluarkan keluh kesal melalui tiupan balon. Setelah itu Satria menyuruhku menali dan melepaskan balin ke arah tebing yang berbatasan langsung dengan samudra hindia, dan benar lega juga rasanya.
Hari hari begitu menyenangkan setelahnya, saat melihat dipta Aku merasa sedikit merelakan. Saat pergantian tempat kunjungan di Bus terdengar lagu Armada Harusnya Aku.
 “ku tak bahagia melihat kau bahagia dengannya, Aku terluka tak bisa dapatkan kau sepenuhnya,,”lagu melantun degan indah
Tapi hal sederhana dari sahabatku membuatku lebih baik. Kini lebih merelakan yang bukan menjadi hak adalah suatu keajaiban.
Penutup Kuliah kali ini adalah danau bedugul. Disana Aku memberanikan diri untuk meminta foto berdua dengan Dipta sebagai kenang kenangan, tapi memang setelah dilihat kami tidak cocok, benar apa kata Satria, “Diet dulu baru bucin.”
Setelah itu perjalanan menuju Pulang di sambut dengan senja, di sana Aku merasa bersyukur targetku “Kali Kedua tak Lagi Sama”.