Kali Kedua Tak Lagi Sama
“Ndrett….
ndrett..” . Suara getar alarm gawai membangunkan lelapku. Dengan setengah sadar
seperti biasa Aku mengingat apa yang akan dilAkukan satu hari ini. Dengan
menunggu 6 nyawa lainnya yang sedang
berkelana dengan mimpiku semalam, Aku masih berusaha keras untuk mengingat.
“byur..
byur.. byur..” air yang bertubrukan dengan lantai kamar mandi terdengar dengan
jelas. Ku panggil teman ku untuk memastikan,
“Tul? El? Pit?” suarAku penasaran. Tiba tiba
seseorang muncul dari balik pintu. Ternyata Nutul teman alien sekaligus teman
kelasku. Dengan suara khasnya “Lusiiii.. mandii.. nanti ketinggalan buss.”
Dengan tertawa ku sambut lengkingan nada geramnya, maksutmu apa pikirku.
Setelah
ku kembali ke kamar baru teringat hari ini jadwal untuk pergi ke Pulau dewata,
sebagai mahasiswa dengan umur masih kepala dua nyawa ke 6 baru bisa kembali
setelah gosok gigi dan cipratan air wudhu. Setelah ku laksanakan kewajibanku
sebagai manusia beragama tiba tiba suara gawai ku bordering lagi. Tertera nama
biyung di gawaiku ternyata tugas seorang ibu tidak bisa lepas meskipun anaknya
sudah di perantauan. Pesan singkat mengingatkan bahwa Aku harus segera bangun
dan mandi serta mengecek kembali barang yang harus ku bawa saat kegiatan kuliah
lapangan di Bali. Meskipun ini kali kedua ku ibuku selalu mewanti wanti agar
tidak ada yang tertinggal.
Begitu
membaca pesan singkatnya Aku segera melaksanakan perintah “ndoro ayu” kalau kata Bapak. Bukan karena Aku terburu tapi Aku
mengingat bahwa setiap pagi ibu pasti sangat kerepotan dan Aku akan merasa
durhaka karena tidak menuruti perintahnya, dengan memberiku pesan singkat
seperti itu rasanya mata awas ibu berada di sekelingku. Entah mengapa hari ini
rasanya menyenangkan sekali.
Dua
puluh menit usai ku sudah siap dengan koper dan ransel. Suara riuh penghuni
asrama putri sudah saling cekikikan canda dan suara tarikan koper sudah mulai
bising. Dari lantai atas ku melihat salah satu teman kelasku lalu ku panggil ia
“nces, inces, tungguin donk, lagi pake sepatu nih. Tul, buruannn, katanya biar
ga ketinggalan bus,”.
Perjalanan
kami awali dengan saling melempar canda dan ramalan, “nces, nih pasti busnya ga
ada di depan solo square, dah kebal Aku dengan janji janji om om” dengan
tertawa mengejek ia membalas ramalanku
“sering
kecewa ya mbak hahahaha”. Sesaat setelah itu tibalah kami di depan solo square
dan benar bus nya tidak satupun yang tampak. Ternyata mereka terjebak macet di jalan.
Disana sudah berkumpul teman temanku yang lain. Wajah ceria mereka pancarkan
untuk perjalanan yang akan di tempuh. Pikirku semoga kali kedua tak lagi sama.
Perjalanan
dibuka oleh suara merdu biduan kelas kami, lagu ambyar milik legend campursari
Lord Didi Kempot dan Caknan kami lantunkan dengan semangat di dalam bus, tak
terasa tibalah kami di salah satu Sekolah berbasis Alam yang akan menyenangkan
menurutku di kota Surabaya. Dalam hati “Ini Surabaya, wah panas terik, air di
sungai gak mengalir, masak iya sih ada sekolah alam disini,” pikirku
merendahkan. Ternyata pradugAku salah, Sekolah Alam Insan Mulia (SAIM)
konsisten dengan namanya sekolah alam.
“eh
kamu cantik banget nak, sini sini kaka foto,” pujiku kepada salah satu siswa di
SAIM , dan tiba tiba teman temannya mendekat,
“Pagiku
cerahku, matahari bersinar, ku gendong tas merahku di pundak,” nyanyiannya
untukku dan tanpa malu Aku menyanyi bersama mereka dan dan seketika teman
temanku hanya melempar senyum padAku. Ah pembuka yang menyenangkan.
Menggali
informasi sedetail mungkin sangat bermanfaat disini. Pematah praduga yang
mantab.
“Mbak
waktunya sudah habis, silahkan menuju masjid untuk beribadah, makan, dan sesi
selanjutnya” tutur Ustad di SAIM dengan ramah mengarahkan mahasiswa. Aku rasa
perjalanan kali ini akan menarik pikirku optimis.
Sebelum
perjalanan kami lanjutkan, Aku diberi amanah untuk membawa kembali air mineral
sisa kembali ke bus, sabahatku Satria tiba tiba datang dengan wajah tengilnya mengejek.
“bawa tuh, lemah amat sih lu hahaha” tawanya menggelegar memecah kebisingan di
sekitar kami. “untung lu jelek, kalo semisal ganteng kaya si Dipta gak gue
nyinyirin lu hahahaha” tanpa sadar Dipta berada di belakangku dan mendengar
semua perkataanku.
Karena
malu Aku cepat cepat menarik almet Satria “eh lu kenape ga bilang Dipta di
belakang gue” cakapku kesal. Kisah awal dimulai dari kejadian ini, ekspetasi
kali kedua indah sepertinya akan susah tercapai.
Perjalanan
kami lanjutkan menuju Pulau Bali, makan malam pun tiba. Karena terburu lapar Aku
dan mei teman bangkuku segera turun dan antri di depan meja prasmanan. Sialya
Dipta berada di seberang meja prasmanan, menahan malu ternyata tidak asik.
“Mei
lu duduk aje dulu, ntar gue ambilin minum.” Kataku dengan menoleh noleh bangku
yang kira kira bisa kita tempati. “heh sat, kok ambil minum dua sih?” tanyaku
pada satria saaat kami berpapasan di ruangan yang penuh sesak. “lah ini gua
ngambilin buat lu satu,” jelasnya. “terimakasih utututu cuhubutku ini baik
bener. Taruh mejaku ya sat Aku harus ngambilin satu buat mei nih dah janji mau
ngambilin hehe” Godaku.
Setelah
kejadian siang tadi Aku selalu menatap Dipta lewat kejauhan. Paiton sudah kami
lewati, tiba tiba terdengar lagu Tegar milik Rossa,
“tergoda
Aku tuk berfikir dia yang tercinta, mengapa tlah lama tak Nampak dirimu di
sini, jangankan ku ingin tersenyum tak ada gairah, ku ingin selalu bersmamu,
kini ku resah diriku lemah tanpa mu,,” semakin lengkap sudah suasana dan lagu
yang terputar. Dipta yang kian terasa jauh ku bisa apa.
Tak
lama pelabuhan semakin terlihat, rasa jenuh melanda, dan kapal terasa
menyebalkan saja karena bau solar, ah kacau.
Pikiranku
terombang ambing layaknya ombak galau tidak jelas. Harapan pupus sudah.
Ditambah suasana dek kapal bau mie instan cup. Semakin mual sajalah perut ini.
Untungnya hanya 2 jam kami di kapal kalau tidak mungkin Aku sudah ambyar.
Hotel
transit terlihat, “Alhamdulillah bisa rebahan” katAku. Sarapan yang sudah di
hidangkan tak meruntuhkan dinding galauku. “heh lu kenape,” Sapa Satria. Karena
keadaan jiwa sedang tidak stabil Aku memilih diam saja. “balik bus yuk” ajak
teman teman, kami pun kembali ke bus, dan apa yang Aku lihat adalah Dipta
sedang berfoto dengan mantannya “haha tau gitu gue nambah nasi tadi sat hahaha”
gumamku pada satria. “gausah sok ketawa lu kalo ambyar, ambyar aja” ledeknya.
Setelah
kunjungan kami menuju GWK, di sana hal sama merusak suasana hati terjadi lagi,
Dipta memberikan hadiah kepada Gita mantannya. “haduh to le le ambyar atiku”
keluhku kepada sahabatku Satria. Lamunanku terpecah saat tari kecak dimualai
yang selalu terputar dalam otak,”nih kenapa sih orang gendut gak berhak
bahagia”
Perdebatan
batin dan logika ku sedikit merusak target capaianku di Bali. Aku terlihat
murung, nahkan Aku merasa pusing sekali. Tiba tiba Aku sudah berada di dalam
bus dengan bau minyak angina di leherku, “loh, kok, dimana nih” tanyAku
bingung. “gausah kaya sinetron lu, dah tau di bus segala nanya dimana” omel Mei
di sampingku.
Hotel
Penginapan sangat nyaman membuatku merehatkan badan dan pikiranku dengan
siraman air hangat shower di kamar mandi dan tidur.
“ndret,,
ndret..”
“kenapa
nih satria, halo, iya kenapa sat” gumamku
“lu
pinter dikit kek. Lu itu di Bali, yang lu lAkuin di sini bukan buat galau bambang.
Mahal coy kasian ortu lu” omel Satria tanpa basa basi dan jeda untuk sekedar
pembelaan.
“hehehe
iya sih gue kenapa sih huhu so sad” ucapku manja.
“yaudah
gua gamau liat lu besok loyo kaya tisu kena aer, yaudah gue mau ke chattime
coffe dulu, dah tidur lu bambank” pesan satria dengan nada mengusir.
“yadeh
bye” timpAku
Penguatan
sabahatku memberi semangat baru di hari ketiga, tiba tiba aja mikir gamau
durhaka sama bapak ibu kalau galau gak jelas. Aku awali dengan yoga di depan
balkon agar hariku lebih tenang, normal, dan sangar.
Kunjungan
wisata ke Uluwatu sebagai tanda selesainya masa galau alai ku, disana Satria
memberiku balon. Dia menyuruhku keluarkan keluh kesal melalui tiupan balon.
Setelah itu Satria menyuruhku menali dan melepaskan balin ke arah tebing yang
berbatasan langsung dengan samudra hindia, dan benar lega juga rasanya.
Hari
hari begitu menyenangkan setelahnya, saat melihat dipta Aku merasa sedikit
merelakan. Saat pergantian tempat kunjungan di Bus terdengar lagu Armada
Harusnya Aku.
“ku tak bahagia melihat kau bahagia dengannya,
Aku terluka tak bisa dapatkan kau sepenuhnya,,”lagu melantun degan indah
Tapi
hal sederhana dari sahabatku membuatku lebih baik. Kini lebih merelakan yang
bukan menjadi hak adalah suatu keajaiban.
Penutup
Kuliah kali ini adalah danau bedugul. Disana Aku memberanikan diri untuk
meminta foto berdua dengan Dipta sebagai kenang kenangan, tapi memang setelah
dilihat kami tidak cocok, benar apa kata Satria, “Diet dulu baru bucin.”
Setelah
itu perjalanan menuju Pulang di sambut dengan senja, di sana Aku merasa
bersyukur targetku “Kali Kedua tak Lagi Sama”.