Skuy cah

Sabtu, 07 Januari 2017

Cerpen



Cerita Masa SMA
Cinta adalah sebuah drama komedi. Banyak orang susah menafsirkan sebuah cinta. Padahal dalam kenyataannya cinta begitu sangat mudah dipahami. Apalagi bagi seorang yang baru saja menginjak remaja. Begitulah yang dirasakan Salsabila Venus. Gadis dengan gemerlap kota Jogja yang membuat siapa saja berdetak kagum melihat anggunnya dirinya. Namun semua kenangan indah di Jogja harus pupus karena tragedi tentang kekuatan cinta yang kini sudah ia ragukan lagi kebenarannya. Tauma tentang cinta berawal dari perceraian orang tua yang membuatnya harus pindah ke Magelang, ke rumah eyang kakungnya.
Pagi ini hari sangatlah cerah, seperti biasa Sasa pergi ke sekolah. Hari ini adalah hari pertama Sasa ke sekolah baru setelah pindah dari Jogja. Sebelumnya ia didaftarkan eyangnya ke sekolah swasta agar tidak jauh beda dengan teman temannya di Jogja, namun Sasa menolak karena ia merasa akan mengawali semua dengan nol lagi. Ia berusaha melupakan semua kenangan indah yang terjadi di Jogja. Setelah diantar eyang ke sekolah, Sasa dengan bersemangat menuju ke kantor untuk menemui Bu Dona.
“Assalmuaaikum Bu, saya murid baru dari Jogja."
“Walaikumsalam. Ohh iya, Salsabila Venus ya? ” tanya Bu Dona dengan senyum manisnya.
“Iya Bu, panggil Sasa saja Bu.”
“Oh ya Mbak Sasa, sini duduk sambil nunggu bel. Kebetulan jam pertama saya mengajar di kelas Mbak Sasa nantinya.“
 “Terima kasih Bu.”
Tiba-tiba dering bel tanda pelajaran pertama berbunyi nyaring, Sasa pun bersiap menuju kelas barunya dengan hati gemetar. Ia berjalan menuju kelas barunya bersama Bu Dona. Tibalah mereka di depan kelas XII IPS 2. Bu Dona pun masuk terlebih dahulu dan berdiri di depan kelas.
“Pagi anak-anak, pagi ini ibu akan memperkenalkan teman baru kalian. Sini Mbak, masuk.” Dengan berjalan perlahan, Sasa mengetuk pintu dan masuk.
“Silahkan perkenalkan dirimu Mbak.”
“Baiklah Bu, pagi teman-teman, perkenalkan saya Salsabila Venus, saya pindahan dari SMA Angkasa Adisucipto Jogjakarta, alamat saya di daerah Wates dekat SMP 3. Panggil saja Sasa.
“Ada yang ingin bertanya? Jika tidak silahkan mbak Sasa duduk di dekat Mbak Aurel.”
       Bu Dona mempersilahkan. Sasa berjalan menuju bangku Aurel. Dengan senyum lebarnya Aurel menyambut Sasa dan menjulurkan tanganya seraya untuk berkenalan.
“Hay. Namaku Aurely Rudi. Panggil saja Aurel. Hehe. Namamu siapa?”
“Aku Sasa, bukannya tadi aku memperkenalkan diriku ya?”
“Masak? Hemm maaf aku lupa, emang gini nih pelupanya parah banget. Jangan kaget ya kalo aku sering lupa apa pun, kata dokter sih aku kena amnesia ringan.”
“Haha iya nanti aku bantu deh kalo lupa. Oh ya kamu mau kan jadi temenku, soalnya aku masih baru banget di Magelang.”
“Ya tentu lah, santai aja.” Dia senyum lebar lagi.
         Dering Bel tanda istirahat berbunyi. Aurel mengajak Sasa pergi ke kantin bersama. Mereka ingin pergi ke kantin, namun Aurel malah menuju arah sebaliknya dari arah kantin.
“Ini jalan ke kantin?”
“Bukan, iya ntar ke kantin aku mau nemuin kembaran aku dulu, mau aku kenalin kamu hehe.”
Tiba tiba seseorang menjotos lengan Aurel. Dan berbincang lama dengan Aurel sambil melirik ke arah Sasa. Karena Sasa masih anak baru mau gerak saja ia merasa canggung.
“Bang, kenalin nih temen baruku, namanya siapa tadi? Planet gitu deh namanya. Lupa hehe.”
“Aku Salsabila Venus, panggil saja Sasa.”
“Nah iya, ni abangku namanya Dynlan Rudi, tapi banyak yang manggil Didin, kata orang nama Dynlan kebagusan, haha, ” sambil menjitak adiknya. Dynlan atau Didin pun mengajak bersalaman Sasa. Karena terlalu lama berbincang dengan mereka, tak terasa bel masuk sudah berbunyi. Mereka pun bergegas kembali ke kelas mereka dan mengikuti pelajaran dengan baik.
         Semakin lama hubungan mereka sangat dekat. Hingga bisa dihitung setiap hari ada aja alasan Aurel untuk main ke rumah eyang. Entah Cuma numpang tidur siang karena sorenya Aurel harus les atau numpang neduh katanya. Memang Aurel akui ia baru pertana kali punya temen yang udah kaya sodar deket, padahal Aurel punya kembaran yaitu Didin. Tetap saja ia nyaman dengan Sasa.
         Tak terasa enam bulan sudah perjalanan persahabatan mereka. Hingga tiba saatnya untuk liburan. Hari pertama liburan hingga akhir entah kenapa jika Aurel main ke rumah pasti bersama Didin, Sasa pun berpikiran bahwa mungkin saja Didin tak punya teman main jika sedang liburan, jadi bisa saja dia kesepian lalu main ke Sasa.
“Dingaren kamu ikut Din ke sini?”
“Ngusir nih critanya?”
“Iya ni Sa maaf ya abangku emang lagi ngebet banget main ke rumah eyang mu. Boro-boro nganterin aku ke minimarket aja gak mau, kalo ke rumahmu aja langsung mau tanpa diajak langsung aja nembeng.” Dengan wajah kesal Aurel menceritakan kelucuan sifat kakaknya.
“Apa sih adik kesayangan abang, kalo ngomel suka asal deh. Gini Sa kalo liburan gini kan aku gabut ya, daripada cuma tidur makan mending aku ikut ke sini. Haha.”                
         Hari pun terus berjalan, tak terasa liburan telah usai, kini saatnya berjuang untuk semester selanjutnya. Setelah seminggu berjalan, kejadian aneh selalu menimpa Sasa, bukan horor ya. Ingat ini bukan horor. Kejadian seperti tiba-tiba ada bunga di laci Sasa, ada coklat di tas Sasa, ada bakso di meja biasa Sasa dan Aurel duduk. Dan Masih banyak lagi. Dan Pada tanggal 27 Juli ada bunga yang banyak gak seperti biasanya dan ada petunjuk peta untuk menuju suatu tempat. Karena Sasa penasaran, Sasa pun mengikuti arah petunjuk peta itu. Dan Peta berakhir di lapangan basket. Di sana juga berdiri seorang laki-laki berseragam sama dengan Sasa yang pasti merupakan siswa di SMA baru Sasa juga.
“Mas, ngapain ngasih bunga sama peta? Mas mau ngajak main peta dora?” Tiba tiba ia menoleh sembari mengatakan sesuatu yang membuat Sasa semakin bingung. Setelah menoleh pun membuat Sasa semakin bingung lagi.
“Dimas? Ngapain dia ngasih kaya gini?” kata Sasa dalan hati.
“Aku menunggumu sudah sejak pertama kali kamu masuk sekolah kita ini. Kamu tau yang mengirim surat cinta tiap malem? Ngirim bunga tiap pagi? Dan ngasih coklat tiap weekend?
“Tukang pos?”
“Itu aku Sa!”
“Tunggu deh, kamu itu temen sekelas aku kan? Kenapa kamu baru ndeketin aku akhir-akhir ini? Dan Lagian kenapa harus dadakan nembak aku?”
“Karena aku pikir kamu deket sama Didin. karena Setiap aku mau ke rumahmu selalu ada Didin. Akhirnya aku memberanikan diri untuk tanya sama Didin dan ternyata dia gak ada rasa sama kamu.”
“Jadi, Didin gak ada rasa sama aku?” tanya Sasa dalam hati.
“Dimas, aku akui perjuangan kamu ini hebat, tapi untuk sekarang ini aku belum bisa trima kamu, kita jalanin aja dulu kaya gimana ntar, aku bakal ngasih kamu jawaban, “ jawab lembut Sasa kepada Dimas.
“Baiklah Sa aku hargai keputusanmu, jangan marah ya Sa, jangan jauihi aku, aku akan tetep ngasih bunga ke kamu sampe kamu mau jawab ya.”
“Gak usah Dim.”
“Ya udah tapi nanti pulang sekolah aku anterin ya, please yang ini jangan nolak, aku mau lebih deket sama kamu.”
 “Hmm, ya.”
         Lalu Sasa kembali ke dalam kelas bersama dengan Dimas. Karena Aurel telat datang sekolah, Aurel melihat Sasa berjalan berdampingan dengan Dimas dan memberi kabar sang abang.
“Bang gaswat nih, Sasa jalan sama Dimas!”  Ia mengetik pesan singkat untuk abangnya. Tak lama kemudian abangnya membalas jawaban yang membuat Aurel tidak puas. “Ah masak, biarin deh. Abang mau ulangan dulu. Bye!”
“Dasar! Dibantuin malah gitu jawabnya. Huh untung abang kandung, ” gerutu Aurel.
Setelah mendapat hukuman dari guru BP karena terlambat, Aurel kembali ke kelas. 3 jam pelajaran pun berlalu. Saatnya istirahat, namun hari ini Aurel tidak mengajak Sasa ke kantin bersama. Ia malah meninggalkan Sasa sendiri. Karena merasa kasian, Dimas pun mendekati sasa dan mengajaknya ke kantin bersama dan akirnya Sasa bersedia mengiyakan ajakan Dimas karena perutnya sangat lapar. Sambil berjalan Sasa hanya diam dan tidak mengrubis perkataan Dimas. Akhirnya pun Dimas bertanya pada Sasa mengapa ia hanya diam saja.
“Hey, Sa. Kamu denger gak aku ngomong apa barusan?”
“Ha .. Apa?”
“Kebiasaan deh nglamun.. Mikirin apa sih? Kepikiran apa. Kejadian tadi pagi?”
“Hem iya Dim. Toh sekarang tambah Aurel, Ia kayaknya marah sama aku, tapi aku gak merasa punya salah, kenapa ya?”
“Udah mungkin Aurel lagi PMS.” Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka ke kantin. Setelah makan usai, mereka bercanda di kantin sambil nunggu bel masuk kelas. Secara tak sadar Sasa dan Dimas ternyata diintai oleh Aurel dan Didin.
“Tuh kan Bang apa kata adikmu ini. Mereka lagi deket kan. Lah Abang kagak bergerak cepet.”
“Kok kamu tau Dik, abang naksir sama sahabat kamu.”
Dengan wajah datar dia menjawab pertanyaan abangnya. “Kita kembar! Abang harus extra deketin Sasa lagi. Aku kira dalam benak Sasa, Sasa suka sama abang.”
“Lah sok tau amat nih bocah!”
“Ya udah nanti aku tanyain deh kecurigaanku.”
         Didin dan Aurel pun pergi ke kelas mereka masing masing. Bel masuk berdering Sasa dan Dimas pun ikut masuk kembali ke dalam kelas.
“Tettt. Pengumuman ditujukan kepada semua warga sekolah hari ini jam ke-4 sampai akhir ditiadakan karena guru staf karyawan akan mengadakan rapat untuk tahun baru. Terima kasih atas perhatian siswa.”
“Aurel, kamu marah?” tanya Sasa pada Aurel.
“Enggak Sa. Kenapa? Hehe”
“Tadi kok nyuekin aku?”
“Gapapa Sa tadi buru buru. Em iya nanti sore aku ke rumahmu ya.”
“Sa ayoo!” ajak Dimas.
“Emm iya.. Rel duluan ya.”
         Sambil berjalan Dimas mengajak Sasa ke Artos Mall untuk nonton film “heatshoot” di Platinum Cineplex. Karena durasi film lama, Sasa pun terlambat pulang sampai lupa bahwa eyangnya menunggunya di gerbang sekolah. Karena waktu sudah sore, Aurel pun menuju rumah Sasa dan bertemu eyang di gerbang sekolah. Karena Kebetulan arah rumah Aurel dan Sasa melewati SMA mereka. Ketika itu Aurel bertemu dengan eyang Sasa, Aurel Dan memberi tahu eyang bahwa jam sekolah sudah berakhir jam 10 pagi tadi. Dan Eyang pun pulang bersamaku ke rumah Sasa. Sambil menunggu Sasa eyang membuatkanku teh hangat karena hujan yang tak berhenti sejak siang tadi.
“Nduk, ini teh anget e di mimik.”
“Nggih eyang. Turnuwun. Eyang pun dahar dereng. Tak pesen ke baso eyang nek dereng.”
“Wes nduk ra semang. Eyang mau wes mangan janganne gaweane eyang uti.”
“Walah nggih pun eyang. Hehe.”
Suara mobil berhenti di depan rumah yang pasti Sasa sudah pulang. Sasa pun kaget melihat Aurel dia lupa bahwa ia ada janji dengan Aurel. Karena basah Sasa langsung menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Terdengar oleh Aurel. Eyang bercakap dengan Sasa.
“Nduk seko ndi kok gek mulih. Eyang mau nang Sekolahmu ngenteni suwe jebul wes bali to kit jam 10 mau. Seko ndi koe?”
“Aku tadi ngerjain tugas eyang. Maaf ya gak nelpon eyang, Sasa lupa, kayaknya penyakit Aurel nular ke aku eyang. Dingapunten eyang.”
“Yoo suk neh ojo baleni. Gawe kepikiran wong tuo. Ra bener kui nduk!”
“Nggih eyang.” Karena sebelumnya Didin telepon Aurel di mana. Dan Aurel pun menceritakan lagi menunggu Sasa pulang karena belum pulang dari sekolah. Karena khawatir Didin pun mendatangi rumah Sasa dengan terburu buru. Karena hujan masih ngguyur Kota Magelang, Didin pun terpeleset dari motornya dan kepalanya terbentur aspal. Firasat saudara kembar memang tak bisa dibohongi. Aurel mendapat firasat bahwa Didin sedang ada masalah dengan pecahnya gelas teh di dekatnya karena tersenggol tanpa sengaja. Akhirnya Aurel berusaha untuk menghubungi Didin. Namun gagal.
“Eyang Aurel pamit, perasaan Aurel gak enak soal Bang Didin, assalamualaikum.” Setelah tuntunan batin Aurel menemukan Didin dengan luka parah dan darah bercucuran. Karena panik, Aurel melepon ambulance dan membawa didin ke RST yang dekat dengan TKP. Dengan air mata yang bercucuran, Aurel berdoa agar kembarannya tidak meninggalkannya. Aurel pun juga menelepon Sasa bahwa Didin kecelakaan saat menuju rumah Sasa karena khawatir akan keadaan Sasa.
“Sa.. Huhuhu bang Didin sa.. Huuu.”
“Didin kenapa?”
“Bang Didin kecelakaan dan masuk ICU sa, kita kami sekarang di RST.”
“Aku ke sana.” Setelah tiba di ICU tiba-tiba Sasa melihat Didin yang sudah ditutup kain wajahnya. Karena Pikirnya itu Didin. Sontak wanita muda itu terkapar di sudut kamar ICU. Matanya nanar. "Didiiiiinnnnn!" Tiba-tiba ia seperti memanggil sebuah nama. Melengking, keras. Namun, kemudian hilang ditelan parau karena sudah tak tahan melihat Didin. Wanita muda itu adalah Sasa. Sasa tergeletak tak sadar diri. Setelah siuman Sasa pun kaget di depannya ada Aurel yang kebingungan melihat Sasa.
“Kamu gak papa Sa?”
“Didin meninggal kan? Jawab jujur.. Didin meninggal kan?”
“Ati-ati kalo ngomong Sa! Abang masih bernafas walaupun lagi koma.”
“Gak usah hibur aku. Aku lihat sendiri Didin ditutup kain wajahnya.”
“Hahahaha. Itu pasien lain keles. Di ICU kan bisa muat dua orang Sa. Abang sih di sebelahnya! Makanya aku bingung kamu histeris amat setelah di ICU.”
“Alhamdulillah lega aku Rel. Ternyata Didin gak papa.”
“Ciee ketauan yang sayang banget sama abang Didin.”
“Apaan sih Rel, hehe, ” timpal Sasa dengan senyum tersipu malu.
Setelah 4 hari akhirnya Didin siuman juga. Selama 4 hari juga Sasa setia menemani Didin. Orang yang pertama kaki dilihat Didin saat sadar juga Sasa.
“Alhamdulillah kamu sadar.”
“Kamu gak papa kan Sa, aku khawatir tahu sama kamu sampai terpeleset di tikungan deket SMP 3 itu.”
“Kok malah tanya aku sih. Kamu itu kan baru sadar gak usah mikir berat deh.”  
          Seminggu setelah pemulihan akhirnya Didin sembuh total. Dan ia pun mengutarakan semuanya yang selama ini ia pendam.
“Aku memang bukan manusia sempurna yang kaya seperti Dimas. Aku juga bukan apa-apa dibanding Dimas. Satu yang gak kalah sama Dimas. Aku gak akan pernah nyerah buat ngajak kamu ta’aruf sama aku sampai kita lulus sekolah tinggi. Aku bakal nikahin kamu. Aku gak mau pacaran kaya kebanyakan orang. Aku mau kamu jadi yang pertama dan terakhir dalam hidupku Salsabila Venus.
“ Terimalah lamaran ta’arufku ini.”
“Dynlan Rudi. Iya aku bakal nunggu kamu sampai lulus sekokah tinggi. Aku akan janji memperbaiki diri supaya bisa jadi istri buat kamu kelak.”
        Akhirnya dengan perjanan Cinta yang amat panjang, kisah cinta mereka selalu terkenang oleh keduanya. Cinta memang kadang sulit untuk dimengerti. Maka, pahamilah cinta, karena cinta bukan sekadar hanya dari pasangan saja, cinta sahabat, cinta eyang, cinta kawan, serta cinta Allah yang tak pernah padam kebesarannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar